Selasa, 26 Juli 2011
7. Akhirnya Jadi Juga Besuk Mpok Eni
Jadilah kita semua balik lagi ke rumah kang Ewong menjemput anaknya mpok Titin yang ketinggalan. Sampai di sana, kang Ewong sedang jongkok di depan rumahnya, di pinggir jalan. Di punggungnya nemplok anaknya mpok Titin.
Kang Ewong ini, memang dicintai anak-anak. Semua anak-anak memanggilnya Papa Ewong, sekalipun dia mati-matian tidak mengakui mereka sebagai anaknya.
Kang Ewong : Woi…! Anak lo nih ketinggalan!
Mpok Titin, dengan gaya ketawanya yang khas, turun dari mobil. Bokong duluan. “Makasih ya Wong, pamitan dulu nak sama om Ewong, ayo cium tangan”
Anaknya mpok Titin mencium tangan kang Ewong lalu masuk mobil. Melambaikan tangan dan berteriak, “Dadah Papa Ewooonggg…..!”
Kepala istrinya Kang Ewong muncul di jendela. Mencari tahu, anak siapa yang manggil suaminya dengan Papa Ewong. Kang Ewong nyengir kayak kuda. “Ancur minah..” katanya.
Kami semua meninggalkan Ewong. Ewong garuk-garuk kepala.
Mpok Ana : Jadi nggak nih nengokin Eni ?
Babah Syarif : Ayok lah… kebetulan gue kangen nih sama Eni.
Bu Wawit manyun. “Dasar si Ayah..” katanya.
Sampailah kita di rumah mpok Eni. “Salam lekooommmm…..”
“Lekom Salaaammm…… “ Suara pria tua terdengar dari dalam. Bapaknya mpok Eni membukakan pintu. “Cari siapa neng?
Mpok Ana: “Eni ada pak?”
“Aduh neng… si Eni kabur dari rumah! Tolong cariin ya neng… “
“Hah??? Kok kabur pak? Bukannya lagi sakit si Eni?” Kata mpok Ana. “Dia kan udah dewasa, emang pergi kali”
Bapaknya Eni : “Enggak neng, dia emang kabur. Padahal belom sembuh bener. Kemaren kan lakinya yang orang Afghanistan itu dateng, marah-marah. Minta uangnya dikembaliin katanya. Jadinya si Eni kabur dah. Tolong cariin anak saya ya neng..”
Aduh Eniii…. Kenapa lagi ni anak????
- Esther Wijayanti -
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar