Selasa, 26 Juli 2011

10. Heboh Di Klinik Dokter Budi



Mendengar ada ribut-ribut di kliniknya dokter Budi, kami bergegas membayar lalu kembali ke mobil menuju klinik yang tidak terlalu jauh dari situ. Setibanya, kami semua turun. Mpok Titin nggak mau masuk. Nunggu di mobil sama anaknya.

Mpok Ana : Elo tunggu sini. Baca doa aja ya mpok, jangan brenti sebelom kelar urusan.

Mpok Titin :
Iye… Iye…

Mpok Titin menengadahkan tangannya. Bibirnya mulai komat kamit baca doa. Di luar klinik, warga berkerumun. Pak RT mencoba menenangkan suaminya Eni yang teriak-teriak. Tapi tidak bisa. Ini orang Afghanistan tingginya hampir dua meter, mana gendut pula. Pantas saja mpok Eni yang badannya mungil itu termehek-mehek melayaninya.

Suaminya Eni menggedor-gedor pintu, dimana Eni di dalamnya nggak mau keluar. Entah apa yang diteriaki. Sepertinya bahasa Afghanistan sedikit campur bahasa Inggris. “Eni!!! Eni!!! Money!! Money!!”. Begitu teriaknya. “Ogaaahh!!! Gue kagak mau balikin duit looo!! Pergi aja lo sono, Ontaaa!!!” Mpok Eni membalas teriak.

Kami masuk. Pak RT bertanya, “Anda semua ini siapa?”

Mas Uki : Kami temannya dokter Budi, dan temannya mpok Eni yang di dalam itu pak. Bisa minta ijin membantu melerai pak?

Pak RT :
oh silahkan.. silahkan.. saya nggak ngerti bahasanya. Belebeg belebeg.

Mas Uki dan babah Syarif mendekati pak Afghanistan ini. Meminta dia pergi. Tapi pak Afghanistan nggak mau. “I will call police” kata mas Uki. Pak Afghanistan nggak ngerti. “I will call satpam” kata babah Syarif. Pak Afghanistan nggak ngerti juga. Komunikasi nggak nyambung.

Melihat ada foto Kapolri di ruang tunggu klinik, mak Eteng mengambilnya dan mendekati pak Afghanistan. Sambil tangan kirinya menunjukkan foto Kapolri, tangan kanannya mengacung-acungkan handphone butut miliknya. “Hey, let me see your Passport, or I will call Police”, katanya. Pak Afghanistan terdiam. “Your Passport!” kata mak Eteng setengah membentak. “No Passport.. no passport” kata suaminya Eni. Kelihatannya dia takut kalau ditanyai soal passport. Lalu dia berjalan ke luar. Warga memberi jalan. Pak RT ikut berjalan keluar, lalu meminta warga untuk bubar.

Pak Afghanistan berhenti dekat mobil. Terlihat bicara dengan mpok Titin. Waduh, ngapain pula dia disitu? Kita semua buru-buru menghampiri. Takut terjadi apa-apa. Pak Afghanistan buru-buru pergi. Mpok Titin senyum-senyum.

Mpok Ana :
Ngapain tadi lakinya Eni ?

Mpok Titin sambil senyum, “Tukeran nomer hape sama gue…“

Mpok Ana : Hah??? Tukeran nomer hape??? Gak salah lo??

Mpok Titin nyengir aja sambil geleng-geleng. “Namanya Mahmoud”, katanya.

Eyalaaahh…. Mpok Titin, sempet-sempetnya tukeran nomer hape. Buat apaan? Kami kembali masuk klinik. Mengajak Eni pulang. Keadaan sudah aman. Untung ada foto Kapolri.

Mas Uki menelepon dokter Budi, melaporkan keadaan yang sudah kondusif. Dan Eni yang mau diajak pulang. Kami pamitan sama pak RT dan suster jaga. Lalu kembali ke mobil.

Tapi sebenernya kita nggak abis pikir. Ngapain juga si Budi majang foto Kapolri di ruang tunggu kliniknya?



- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar