Sabtu, 27 Agustus 2011
Tumis Terong Belanda
Para wanita sedang asik ngerumpi masalah urusan tempat tidur. Mbak Prita Gembbili mengambil dompet dari dalam tasnya. Mengeluarkan foto pernikahannya dengan Kumpeni kesayangannya. Namanya saja Kumpeni, badannya tinggi. Mbak Prita Gembbili cuma sebahunya. “Ini dia foto suami saya. Cakep ya? Besar ya? Coba kalian semua bayangkan, suami setinggi ini, kira-kira sebesar apa terong belandanya?” katanya sambil tersenyum bangga.
Mpok Wati datang. Duduk bergabung. “Wah, pada ngomongin terong belanda nih. Terong belanda itu enaknya ditumis”
Mak Eteng melongo. Mpok Fetty melongo. Mami Dewi melongo. Bu Wawit melongo. Mpok Caca apalagi. Semua memandang mpok Wati. “Maksud looohh??” kata mpok Caca.
Mpok Wati nyerocos : Iya, terong belanda enaknya ditumis. Dipotong-potong dulu, lalu terongnya direbus sebentar biar lemes. Setelah itu ditumis pake cabe ijo, dan ikan asin jambal. Bumbunya bawang merah, bawang putih, lengkuas, daun salam, lalu cemplungin ke wajan. Dioseng sebentar. Kalau suka kasih kecap dikit.
Mak Eteng : Wat, itu mah terong ungu
Mpok Wati : Eh, ini terong belanda ya? Oh iya… haha aku lupa. Kalau terong belanda enaknya dipotong-potong, masukin blender, kasih sirup merah sama es batu.
Mpok Wati memukul meja. “Sekarang, Terong Belandanya siapa yang mau saya blender??!”
Mak Eteng melongo. Mpok Fetty melongo. Mami Dewi melongo. Bu Wawit melongo. Mpok Caca apalagi. Semua jari menunjuk mbak Prita Gembbili.
- Esther Wijayanti -
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar