Kamis, 11 Agustus 2011
14. Mengantar Mas Uki Ke UGD
Acara makan malam yang diakhiri dengan mas Uki sesak nafas karena ketiban mbak Prita Gembbili harus diakhiri segera. Kami keluar dari area Ancol untuk pulang. Mas Uki duduk di belakang dengan kang Ewong, sementara mbak Prita Gembbili manyun di kursi depan sambil sesekali menengok mas Uki yang masih sesak napas. Kang Ewong membuka kaca jendela agar mas Uki mendapat oksigen.
Lampu menyala merah di depan gerbang Ancol. Kami berhenti. Bus Transjakarta di sebelah kami membunyikan klakson. Satu kali. Dua kali. Berkali-kali. Tiba-tiba supir bis berteriak dari dalam bis, “Papaaaaahhhh….!!!” Kang Ewong terkejut. Astaga, itu suara istrinya! “Papah ngapain disini??!!! Sama siapa itu???!!!”. Istri kang Ewong memang supir bis Transjakarta. Kebetulan hari itu dia dapat shift malam. Kang Ewong melongo. “Papaaaaahhhhhh…..!!!”
Kang Ewong : Anu Mah… ini mas Uki…
Babah Syarif membuka kaca jendela. “Mau nganter mas Uki ke UGD mbaaakkk….!!! Megap-megap mas Ukinyaaahh….”
Bu Ewong : Eh, mas Aip. Kenapa mas Uki?? Sakit ???
Babah Syarif : Iya mbak, makanya buru-buru mau ke UGD nih. Habis ini saya antar Ewong pulang deh.
Bu Ewong : Ya sudah sana cepetan ke UGD. Siapa itu yang duduk di tengah??
Lampu menyala hijau. Babah Syarif tancap gas. Selameet… selameet…. Kang Ewong menutup jendela. Mak Eteng dan bu Wawit keluar dari persembunyian. Cengar cengir.
Bu Wawit : Kita nggak mau nambahin masalah lu Wong, makanya kita ngumpet
Kang Ewong : Lah.. elo kan bininya Aip, masak jadi masalah sama bini gue??
Mak Eteng : Dia bininya Aip, tapi gue kan jande…
Kang Ewong : Jjiiaaahhh….. jande dari Hongkong….??
Kami meneruskan perjalanan mengantar mbak Prita Gembbili hingga di depan rumahnya.
Mbak Prita : Hlo, kita nggak jadi ke UGD ?
Mas Uki : Aku baik-baik aja kok.. kamu pulang aja ya..
Mbak Prita : Tapi janji ya, besok kamu ke rumahku ya.. aku tunggu ya…
Mas Uki : Iya..
Mbak Prita : Janji??
Mas Uki : Janji
Mbak Prita : Ya udah.. dadah mas Ukiiiii…..
Kami semua meninggalkan mbak Prita. Menuju rumah mas Uki di Cibubur. Perjalanan yang jauh. Kami tidak tega membiarkan mas Uki menyetir mobil sendirian. Akhirnya sampailah kami di rumah mas Uki. Serah terima mas Uki ke mbak Uki.
Mbak Uki : Hlo, kok rame-rame? Ada apa ini? Masuk dulu yuk…
Babah Syarif : Ini mas Uki agak sesak napas, jadinya kita antar
Mak Eteng : Makasih mbak, kita nggak lama-lama, sudah malam.
Mbak Uki memapah mas Uki untuk duduk. “Bener nih nggak mau mampir? Saya buatkan minum ya?”
Babah Syarif : Nggak usah repot-repot mbak, sudah malam
Kang Ewong menenteng tiang benderanya mak Eteng. Hari sudah malam. Hampir jam 12. Berada di tengah-tengah komplek perumahan begini, nggak ada taksi yang lewat, apalagi angkot.
Jadi bagaimana ini kita pulangnya?
- Esther Wijayanti -
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar