Jumat, 05 Agustus 2011

13. Mawar Merah Untuk Mbak Prita Gembbili



Perjalanan kami menuju Ancol menyenangkan. Penuh tawa. Sekalipun mbak Prita Gembbili manyun, dan sebentar-sebentar menjitak tiang bendera mak Eteng yang ditaruh di tengah-tengah mobil. Memisahkan antara penumpang yang duduk di sebelah kiri dan yang di sebelah kanan.

Memasuki perempatan jalan Gunung Sahari, lampu menyala merah. Seorang pedagang mawar mendekat. Mas Uki membuka jendela, membeli setangkai mawar merah. Membayar Rp.5.000,-. Menutup jendela, lalu mengulurkan mawar itu pada mbak Prita Gembbili. Tapi, mas Uki terlihat kaget sendiri, tidak jadi memberikan mawar, lalu menaruhnya di kolong tempat duduknya.

Mbak Prita :
Hlo, kok nggak jadi dikasihkan saya mas??

Mas Uki :
Eh, anu… kenapa nggak jadi ya?

Mak Eteng yang duduk di belakang mas Uki menjitak kepala mas Uki. “Kebiasaan yaaa…. Cari gara-gara yaaa…..”

Mas Uki :
hihihi… iyaa…. Aku reflek kalau ada tukang mawar.

Bu Wawit cekikikan. “ Daripada ditaruh di kolong kursi, buat gue aja mawarnya. Lumayan buat pajangan”

Mbak Prita : Eh, nggak bisa! Mawar itu khusus buat aku! Mana mas, mawarnya, sini saya ambil sendiri.

Mbak Prita Gembbili berusaha meraih mawar di kolong kursi mas Uki, tapi terhalang tiang bendera mak Eteng. “Ya udah.. ya udah, tunggu saya ambilkan”, kata mas Uki. Dia merogoh kolong kursi dan memberi mawar merah itu untuk mbak Prita. Mbak Prita tersenyum bahagia, bibirnya mendarat di pipi mas Uki.

Sampailah kami di Ancol, membeli enam paket nasi ayam, menyewa tikar, lalu duduk di pantai. Sungguh makan malam yang nikmat. Selesai makan, mas Uki berjalan menuju pantai untuk merokok sambil menikmati debur ombak di kakinya. Mbak Prita Gembbili menyusul. Selendangnya melambai-lambai. Memeluk pinggang mas Uki dari belakang, mas Uki memberontak. Lalu kabur tunggang langgang! Mbak Prita Gembbili mengejar. Sungguh pemandangan kejar-kejaran di pantai yang romantis.

Sampai di ujung, mereka berlari kembali hingga tiba di tempat kami duduk. Mas Uki duduk di tikar. Nafasnya tersenggal-senggal. Mbak Prita Gembbili tiba belakangan. Menjatuhkan diri di tikar. Tapi salah jatuh. Mas Uki ketiban. Hadoohh…!! Kang Ewong segera membantu mbak Prita Gembbili bergeser. Mas Uki sesak napas. Megap-megap. Bu Wawit merogoh tasnya mencari minyak angin. Lalu dioleskan di hidung mas Uki. Mak Eteng mengambil koran, mengipas-ngipasi mas Uki. Semua sibuk. Mas Uki tetap sesak napas. Mbak Prita Gembbili tidak bisa tinggal diam. Dia mencoba memberi napas buatan. Mas Uki berteriak. “Ampuuunn….!! Ampuuunn….!!” Untung kang Ewong badannya besar, jadi bisa megangi mbak Prita Gembbili agar tidak menibani mas Uki untuk kedua kalinya.

Setelah kehebohan itu mereda, kami memutuskan pulang. Semua duduk di kursinya masing-masing. Tiba-tiba babah Syarif turun. Mengetok pintu mas Uki, menyuruh mas Uki turun. “Sini gue yang nyetirin, kasihan elo masih sesek napas. Duduk sama Ewong sana”. Mas Uki nurut. Pindah duduk paling belakang sama kang Ewong. Babah Syarif menyetir.

Mbak Prita Gembbili manyun. Sebentar sebentar menengok ke belakang. Sambil melambaikan mawar merahnya, memanggil-manggil mas Uki, “Maaas…. “

Kang Ewong :
Apee….

Mbak Prita :
Gue nggak manggil elo, dodol…!

Mas Uki : yaaaa……

Mbak Prita melambaikan mawar merahnya, “Maaas…..”

Kang Ewong :
Apee……

Mbak Prita melambaikan mawar merahnya, “Maaas….”




- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar