Senin, 30 Juli 2012

IPB Dibubarin Aja Mak..



Si Bagus, anak ragilku yang sudah kelas 10, mendatangi aku yang sedang mencuci pakaian di belakang rumah. Pekerjaanku sehari-hari memang mencuci dan menyeterika pakaian tetangga. Lumayanlah buat hidup sehari-hari. Berjongkok di sebelahku, sambil memegang anak kucing kesayangannya, Bagus bertanya,

Bagus: “Mak, aku lihat teman Mamak di facebook. Om dan tante Edi pake topi proyek, keren hlo Mak..”

Aku: “Iya nak, om dan tante Edi itu suami istri yang hebat, Mamak bangga sama mereka”, kataku sambil asik mencuci pakaian.

Bagus: “Mereka sedang apa sih Mak?”

Aku: “Mereka itu sedang memasang instalasi kabel bawah laut, istilahnya SKKL. Sistim Komunikasi Kabel Laut”

Bagus: “Waaaa… hebaaatt…. Kabel dari mana kemana itu Mak?”

Aku: “Yang sekarang sedang mereka pasang itu, dari Singapura, Batam, Bangka dan Jakarta”

Bagus: Waaaa… hebat yaa.. itu program pemerintah ya Mak?

Aku: “Mamak kurang tau nak, bisa program pemerintah, bisa juga program swasta yang mendapat ijin pemerintah. Kan tidak semua program besar begitu atas inisiatif pemerintah, ada juga yang atas inisiatif swasta. Inisiatif anak-anak bangsa kayak om dan tante Edi itu”.

Bagus: “Ooohh… gitu ya Mak? Apa lagi contohnya program yang inisiatif anak bangsa?”

Aku: “Termasuk maintenance kabel laut itu, kan bukan pemerintah yang bikin program. Musti swasta. Biasanya kerjasama dengan asing. Contohnya maintenance kabel laut dalam, yang ratusan meter itu, kan butuh kapal selam. Kita belum punya teknologinya, tapi kan kita bisa kerjasama dengan perusahaan asing.”

Bagus: “Hebat ya anak-anak bangsa Indonesia Mak..”

Aku: “Iya. Makanya kamu rajin belajar ya Nak, biar jadi anak bangsa yang hebat kayak teman-teman Mamak itu”

Bagus: “Tapi kenapa ya Mak, mang Udin tukang tempe bilang, sekarang tempe susah, impor kedelai sedikit dari Amerika, kenapa tempe kita kedelainya impor ya Mak? Emangnya kita nggak bisa tanam kedelai sendiri?”

Aku: “Nggak bisa Nak, kedelai, gandum, beras, kita banyak impor dari luar negeri”

Bagus:”Bukannya dulu ada yang namanya swasembada pangan Mak, kok sekarang nggak ada lagi? Semuanya impor? Emangnya negara kita udah nggak swasembada pangan lagi ya Mak?”

Aku: “Ya nggak lah Nak, kita ini sudah tidak swasembada pangan lagi, makanan kita tergantung impor”

Bagus:”Kan Indonesia punya ahli-ahli pertanian dari IPB Mak, Mamak bilang tadi, nggak semua program adalah program pemerintah. Bisa juga program datangnya anak bangsa. IPB apa nggak punya program buat nyediain kedelai sama beras untuk seluruh rakyat? kan bisa kerjasama dengan asing kayak temen Mamak yang pasang kabel laut itu. Temen Mamak aja bisa pasang kabel laut, kok ahli-ahli IPB nggak bisa tanam kedelai ?”

Aku:”IPB? Mamak nggak tau, mereka punya program apa. Keberadaannya sudah nggak kedengeran lagi, nggak kayak waktu Mamakmu ini masih kecil. Bapaknya mamak, eyang kakungmu itu, bangga sekali bangsa ini punya IPB, negara-negara lain sampai ngirim pelajar-pelajarnya untuk belajar di IPB. Dulu, IPB kebanggaan bangsa. Ahli-ahlinya punya kontribusi besar terhadap perkembangan pertanian Indonesia”

Bagus: “Lalu IPB sekarang ngapain aja Mak? Mang Udin kan jadi susah kedelai..”

Aku: “Nggak tau Nak, mereka sepertinya lebih kepengen masuk surga ketimbang mengangkat agrikultur bangsa”

Bagus: “Kalau begitu, baiknya IPB dibubarkan aja ya Mak.. nggak ada gunanya buat bangsa. Kasian Mang Udin, mau bikin tempe aja harus impor”

Aku: “Hush.. Jangan Nak, nanti siapa yang imunisasi kucingmu ?”

Bagus menatap kucingnya. Mengelus-elusnya. Aku melanjutkan pekerjaanmu. Mencuci pakaian tetangga.


- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar